Jakarta, 5 Desember 2017 – Diabetes mellitus (DM) atau kencing manis termasuk salah satu penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian di Indonesia. Hal ini ditambah dengan fakta bahwa penderita DM di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Menurut laporan World Health Organization (WHO), Indonesia berada pada posisi lima besar negara di dunia yang memiliki jumlah penderita DM terbesar, diperkirakan sekitar 10 juta orang.

Sayangnya, menurut penelitian McKinsey & Company, hanya sekitar 47 persen dari penderita diabetes di Indonesia yang telah terdiagnosa mengidap DM. Bahkan, diagnosa tersebut cenderung terlambat terdeteksi  di mana pasien biasanya sudah mengalami dua atau tiga komplikasi penyakit lainnya.

Penanganan diabetes yang terlambat pada gilirannya akan merusak pembuluh darah pada jantung, ginjal, mata dan syaraf sehingga menyebabkan penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, mata, kaki dan gangguan sistem syaraf. Dapat dikatakan, DM merupakan induk dari berbagai jenis penyakit karena komplikasinya yang sangat banyak.

DM terdiri atas tiga jenis berdasarkan penyebabnya. Pertama, tipe 1 yang disebabkan oleh faktor keturunan ditambah faktor lingkungan dalam bentuk virus. DM tipe 1 ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh merusak produksi insulin dari pankreas. Kedua, tipe 2 merupakan DM yang paling banyak terjadi, yaitu disebabkan oleh sejumlah faktor seperti  gaya hidup tidak sehat, kegemukan, kurangnya aktivitas fisik, serta keturunan. Ketiga, diabetes gestational yang menimpa perempuan hamil akibat peningkatan hormon.

DM juga merupakan penyakit yang datangnya pun tidak terduga, sehingga sering disebut dengan silent killer atau pembunuh secara diam-diam. Jika muncul gejala-gejala seperti mudah haus, sering buang air kecil, penurunan berat badan secara mendadak, kelelahan yang ekstrim dan berulang-ulang, kaburnya penglihatan, serta luka yang sulit untuk sembuh, itu bisa jadi pertanda tingginya kadar gula seseorang.

Ahli  penyakit diabetes dan endokrinologi dari Farrer Park Hospital Singapura, Dr Goh Kian Peng, mengatakan bahwa cara terbaik melawan DM adalah dengan menangani faktor risikonya. “Faktor usia dan keturunan memang tidak dapat dirubah. Namun, olah raga dan diet adalah pilihan gaya hidup yang dapat kita tangani,” ujar Dr Goh.

Faktor genetik hanya berkontribusi 25 persen dalam perkembangan penyakit DM. Ini berarti bahwa 75 persen dari seluruh faktor risiko pada penyakit DM masih dapat kita kendalikan. “Memang ada beberapa jenis DM yang sangat tinggi faktor keturunannya tetapi jumlah sangat sedikit,” katanya.

Menurut Dr Goh, selama lebih dari 10 tahun terakhir telah muncul model-model pengobatan baru yang membidik jalur-jalur metabolisme. Dengan demikian, saat ini kita memiliki banyak pilihan model pengobatan yang lebih sesuai dengan pasien-pasien yang memerlukan penanganan tertentu. “Hal ini juga membuat para dokter menjadi lebih fleksibel dalam meramu penggunaan obat yang beragam, di mana hal ini meningkatkan khasiat dari pengobatan itu.

CEO Farrer Park Hospital Singapore, Dr. Peng Chung  Mien, mengatakan “kami menawarkan berbagai penanganan untuk bermacam kasus diabetes oleh para dokter spesialis endokrinologi di Farrer Park Hospital. Untuk menguji adanya penyakit diabetes, kami menyediakan beragam tes laboratorium untuk pasien rawat inap maupun rawat jalan dengan menggunakan analisa klinis yang modern. Sistem informasi mengenai penanganan dan pelaporan uji laboratorium juga sepenuhnya terintegrasi dengan sistem lainnya di rumah sakit ini. Sehingga, pasien dapat mengharapkan hasil uji laboratorium yang akurat, dapat diandalkan dan tepat waktu demi penanganan yang efisien dan efektif”

Ditambahkan oleh Dr Goh bahwa pengendalian gula darah merupakan tujuan utama pengobatan diabetes untuk mencegah komplikasi penyakit. DM tipe 1 dikelola dengan insulin dan perubahan pola makan serta olah raga. Sedangkan DM tipe 2 dapat dikelola dengan pengobatan insulin, non-insulin, pengurangan berat badan dan perubahan pola makan.